6.25.2012

Menanamkan Kepercayaan Diri pada Anak

Sebagian besar orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi bahagia, penuh kasih, percaya diri, memiliki harga diri yang tinggi dan untuk unggul dalam apa yang mereka lakukan. Di antara sifat-sifat yang diinginkan ini, kepercayaan diri menjadi salah satu fondasi yang paling penting untuk diwujudkan bagi orang lain. Jadi pertanyaan yang penting ialah: “Bagaimana Cara sobat membesarkan Anak yang percaya diri?”


Membesarkan Seorang Anak yang Percaya Diri
Meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dimulai dari menghargai bahwa rasa percaya diri berasal dari dalam. Meskipun sangat membantu bagi orang tua untuk percaya pada anak-anak mereka, ada yang lebih penting yaitu harga diri anak tersebut. Sumber kepercayaan diri adalah yakin pada diri sendiri. Agar dapat mengetahui caranya menanamkan kepercayaan itu pada anak-anak kita, pertama-tama kita perlu memahami bagaimana keyakinan mereka mempengaruhi perilaku mereka.

Keyakinan umumnya berarti apa yang kita terima sebagai kebenaran. Ini termasuk asumsi, kesimpulan dan prediksi. Kunci utama dari suatu keyakinan adalah bahwa keyakinan tersebut memberi kepuasan bagi diri sendiri. Suatu keyakinan menanamkan suatu pengharapan, yang pada gilirannya membentuk cara kita memandang dan menghadapi dunia. Henry Ford pernah berkata, “Jika sobat percaya sobat bisa atau sobat tidak bisa, sobat mungkin benar.” Ketika seorang anak percaya bahwa ia bias melakukan suatu tugas, maka dia lebih cenderung sukses. Dan jika ia gagal pada awalnya, dia akan mencoba lagi dan lagi sampai ia mendapatkannya dengan baik. Tapi ketika seorang anak percaya bahwa ia tidak bisa, ia kurang ingin mencoba. Dan jika ia gagal setelah mencoba, maka dia mempertegas kesimpulan dari keyakinannya bahwa ia memang tidak mampu.

Tugas membesarkan anak-anak yang percaya diri menuntut bimbingan agar mereka bertumbuh dan menjadi lebih kompeten dalam memenuhi tuntutan dan tantangan kehidupan. Ini bisa berarti mengajarkan seorang anak untuk mengikat tali sepatunya sendiri, naik sepeda atau bersaing dalam turnamen catur. Anak-anak yang percaya diri merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Mereka menunjukkan sikap “Aku bisa melakukannya!” Sebaliknya, mereka yang kurang memiliki harga diri sering berpegang pada kepercayaannya seperti “Saya tidak bisa” dan “Aku tidak cukup baik”.

Menanamkan kepercayaan
Menanamkan kepercayaan diri pada anak-anak adalah proses langkah-demi-langkah. Itu berarti membantu mereka memperoleh kepercayaan diri secara bertahap dari waktu ke waktu dengan memilahnya
menjadi beberapa langkah kecil saja. Idenya adalah agar member kemudahan bagi anak-anak untuk memulai sesuatu, dan kemudian membangun momentum atas suatu kesuksesan yang pertama. Kadang-kadang, seorang anak mungkin bahkan melakukannya sendiri.
Aku ingat anakku yang berusia enam tahun belajar melakukan aksi dengan melompat dari tempat tidur atas sebuah tempat tidur bertingkat. Sebagian dari diriku rasanya  ingin menghentikan dia dari melakukan hal-hal yang mungkin membuatnya terluka, tetapi bagian lain dari diriku merasa penasaran ingin melihat bagaimana dia menangani proses itu.
Dia mulai dengan meloncat dari tengah anak tangga, dan secara bertahap bergerak lebih tinggi satu anak tangga pada satu waktu sampai ia mencapai tempat tidur di bagian atas. Selama proses, aku mendengar dia menyanyi untuk dirinya sendiri, “Aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya.” Dan benar, ia akhirnya melakukannya.
Salah satu penyebab utama harga diri yang rendah adalah rasa takut. Sekali lagi, rasa takut sering berakar pada keyakinan bahwa “Saya tidak bisa mengatasinya”. Keyakinan sedemikian biasanya disebabkan oleh pengalaman masa lalu.
Seorang anak yang sebelumnya jatuh dan terluka saat belajar naik sepeda mungkin terlalu takut untuk mencobanya lagi. Sebagai orangtua, tugas kita adalah membantu mereka untuk menyadari apa ketakutan mereka, dan kemudian membimbing mereka untuk mengidentifikasi hal apa yang bisa mereka lakukan supaya dapat mengatasi ketakutan itu. Kadang-kadang, yang terjadi ialah seorang anak lebih takut ditertawakan oleh teman-temannya daripada rasa sakit fisik karena jatuh dari sepeda. Yang pertama dapat diatasi dengan mengajak anak itu ke ruang yang lebih terpisah, sedangkan yang terakhir bisa dilakukan dengan tidak melepaskan genggaman kita pada sepeda sampai anak siap untuk ber-solo karier.
Apa pun itu, kita perlu memberikan dorongan dan dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan tindakan mereka, dan tidak membiarkan anak puas dengan kepercayaan diri yang bersifat negatif. Beberapa orang tidak pernah bisa berhasil mengatasi ketakutan mereka yang dibawa sejak masa kanak-kanak dan terus menghalangi mereka seumur hidup.

Apapun yang dilakukan oleh seorang anak, membangun rasa percaya diri sering kali menuntut bimbingan agar seorang anak dapat maju dari tingkat pemula ke tahap menengah sampai tingkat yang lebih maju.
Bagaimana menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak kita untuk mencoba hal-hal baru itu semuanya diserahkan pada kita masing-masing. Sebagai contoh, di sebagian besar sekolah skating, kita sering mendengar instruktur berkata pada siswanya untuk jatuh ke depan ketika mereka kehilangan kendali.
Bagi seorang pemula, “Jangan jatuh” atau “hati-hati” tentu tidak banyak membantu. Sebaliknya, peserta didik diberi alat pelindung dan diajarkan dasar-dasar jatuh sedemikian rupa sehingga tidak menjadi sesuatu yang harus ditakuti. Sekali seorang anak bisa ‘jatuh dengan percaya diri’, ia kehilangan rasa takut jatuh, membebaskan dia untuk memberikan perhatian agar dapat menguasai teknik ber-skating lain yang lebih menantang ataupun lebih rumit.

Bentuk dorongan yang terbaik mungkin dengan memperlihatkan keyakinan kita atas kemampuan anak-anak kita secara terbuka. Suatu ketika, anak saya ikut ambil bagian dalam turnamen catur dan merasa bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, yang kemudian menjadi pemain unggulan teratas.
Aku bertanya kepadanya, “Bagaimana kau tahu bahwa ia tidak terkalahkan?” Anakku menjawab, “Dia sangat baik. Dia adalah peringkat nomor satu. Sejauh ini dia telah memenangkan semua pertandingan.” Putraku memang tidak diunggulkan dan baru pertama kalinya ambil bagian dalam turnamen nasional, dia juga tidak pernah bermain melawan salah satu pemain peringkat atas sebelumnya. A
ku berkata padanya, “Apa pun bisa terjadi, dan kau tidak akan mengetahuinya kecuali jika kau mencoba. Aku hanya kenal satu anak yang mungkin mengalahkannya, dan namanya adalah … Sean (anakku) “. Wajahnya bersinar karena terkejut.
Ia tidak memenangkan kejuaraan, tapi ia peringkat kedua setelah mengalahkan sebagian besar pemain top, termasuk anak laki-laki yang sebelumnya ditakuti. Perhatikan hal apa yang pernah mereka lakukan dengan baik di masa lalu dan bimbinglah mereka untuk mengakses pengalaman-pengalaman itu sebagai sumber daya pribadi untuk membantu mereka membangun kepercayaan diri yang lebih besar. Kemenangan ini sangat berarti bagi dia, dan akan tetap menjadi pelajaran besar baginya untuk menantang asumsi-asumsi dan keyakinan setiap kali ia bertemu dengan keraguan diri di masa depan.

Praktek penting lainnya dalam membangun kepercayaan diri anak-anak adalah untuk menangkap-basah mereka saat melakukan hal yang benar, dan memberinya pengakuan pada waktu yang tepat. Ini mungkin hal yang sederhana seperti berkata “Itu benar” atau “Kamu melakukan hal yang benar sekarang”. Hanya menyatakan fakta, tanpa menambahkan perasaan emosional seperti “Aku bangga padamu saat kau melakukannya.”
Kebanggaan kita tidak relevan bagi pertumbuhan anak-anak kita. Yang penting adalah bahwa mereka mendapatkan beberapa bentuk penegasan ketika mereka melakukannya dengan baik. Kebalikan dari itu adalah kritik, boleh jadi inilah penghancur harga diri anak yang terbesar.

Kritik sama sekali tidak punya tempat dalam membesarkan anak-anak yang percaya diri, bahkan kritik yang membangun pun tidak. Kritik orangtua sering bertahan sampai dewasa. Kebanyakan orang dewasa berjalan dengan sifat orangtua kritis sebagai bagian dari diri mereka, ini terlihat dalam bentuk suara hati yang terus-menerus mengingatkan mereka atas kekurangan mereka. Alternatif untuk kritik bukan pujian, melainkan permintaan. Sebagai contoh, daripada mengkritik seorang anak dengan mengatakan “Mengapa kau begitu ceroboh?”, Katakan kepada mereka “Apakah lain kali kau akan lebih berhati-hati?”. Ketika kita meminta anak-anak untuk melakukan atau berperilaku yang sesuai tata krama, hal itu membantu mereka untuk bergerak ke arah hasil yang positif sebagai lawan dari menghindari ha-hal negatif.

Secara ringkas, berikut ini beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk meningkatkan percaya diri anak-anak:
  • Dorong mereka untuk percaya pada diri mereka sendiri. Buatlah mereka terbiasa mengatakan, “Ya, saya bisa melakukannya!”
  • Pisahkan dan taklukkan. Memilah tantangan ke langkah-langkah yang lebih kecil dan membangun momentum untuk kesuksesan yang pertama.
  • Bimbing mereka untuk mengetahui ketakutan mereka dan menantang asumsi-asumsi yang mendasarinya.
  • Menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka untuk mencoba hal-hal baru.
  • Beri perhatian saat mereka melakukan hal yang benar dan segeramemberi pengakuan.
  • Jangan memberi kritik.
  • Bersikaplah percaya diri dan membimbing dengan memberi contoh.
 Sempga bermanfaat...

Belum ada komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan dan jangan nyepam ya..Menuliskan link aktif tidak akan ditampilkan dalam komentar.Terima Kasih


Konversi Kode OOT Smiley

Beranda
 
Selamat datang di abitalita.blogspot.com, semoga apa yang anda cari bisa anda temukan diblog sederhana ini,terima kasih untuk kunjungannya dan ditunggu kunjungan berikutnya.